Tren Otomotif

Harga Pick Up India untuk Koperasi Merah Putih, Unit Sudah Tiba di Priok

  • 58 Views
pickup mahindra
dok. Istimewa (Kompas dan Detik)

Daftar Isi

PT Agrinas Pangan Nusantara mulai merealisasikan impor 105.000 unit kendaraan niaga asal India untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih. Tahap awalnya, sebanyak 1.000 unit pick up 4×4 sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan siap didistribusikan ke berbagai daerah.

Pengadaan dalam jumlah besar ini disebut memiliki nilai kontrak mencapai Rp24,66 triliun dan melibatkan dua produsen otomotif India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.

Berapa Harga Pick Up India Tersebut?

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyebut harga yang didapat sangat kompetitif. Meski tidak membeberkan angka detail karena terikat perjanjian kerahasiaan (NDA), ia menyatakan banderolnya berada jauh di bawah harga pick up 4×4 sekelas di pasar saat ini.

Jika dihitung dari total kontrak Rp24,66 triliun untuk 105.000 unit, maka rata-rata harga per unit berada di kisaran:

Rp234 jutaan per kendaraan

Harga tersebut diklaim sudah termasuk pajak dan distribusi ke seluruh Indonesia (On The Road dan On The Place), termasuk wilayah Indonesia Timur.

Sebagai perbandingan, pick up 4×4 di pasar nasional seperti:

  • Toyota Hilux 4×4 Double Cabin: mulai Rp456 jutaan
  • Mitsubishi Triton 4×4: mulai Rp380 jutaan

Sementara salah satu model yang diimpor, yakni Mahindra Scorpio Pick Up, saat ini dijual di Indonesia dengan kisaran harga Rp278 juta (single cabin) hingga Rp318 juta (double cabin).

Komposisi 105.000 Unit

Dari total pengadaan:

  • 35.000 unit Mahindra Scorpio Pick Up
  • 35.000 unit Tata Yodha Pick-Up
  • 35.000 unit Tata Ultra T.7 Light Truck

Seluruhnya menggunakan sistem penggerak 4×4 dan ditujukan untuk mendukung distribusi logistik serta operasional koperasi di wilayah dengan medan berat.

Unit Perdana Sudah Mendarat

Sebanyak 1.000 unit pertama yang tiba di Tanjung Priok menandai dimulainya proyek pengadaan kendaraan niaga skala besar tersebut. Distribusi selanjutnya akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh 105.000 unit terpenuhi.

Kebijakan impor ini pun menjadi sorotan, mengingat industri otomotif dalam negeri juga memiliki kapasitas produksi pick up yang besar. Namun dari sisi harga, skema pembelian massal langsung ke prinsipal disebut menjadi faktor utama tercapainya banderol yang lebih rendah.

Bagaimana dengan Industri Lokal?

Keputusan impor 105.000 unit pick up dari India turut memunculkan pertanyaan, mengingat Indonesia memiliki sejumlah pabrikan yang memproduksi kendaraan niaga secara lokal.

Beberapa model seperti Toyota Hilux, Mitsubishi Triton, Gran Max, Carry hingga berbagai pick up ringan rakitan dalam negeri telah lama berkontribusi terhadap industri otomotif nasional. Bahkan, kapasitas produksi kendaraan niaga di Indonesia disebut mampu mencapai ratusan ribu hingga sekitar 1 juta unit per tahun, meski belum seluruhnya terutilisasi.

Dari sisi industri, produksi dalam negeri tentu berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, penggunaan komponen lokal (TKDN), serta perputaran ekonomi domestik.

Namun di sisi lain, pihak pengadaan menyebut skema pembelian dalam jumlah besar (bulk order) langsung ke prinsipal menjadi faktor utama tercapainya harga yang lebih rendah. Faktor spesifikasi 4×4 serta kebutuhan distribusi cepat dalam skala nasional juga disebut sebagai pertimbangan.

Perdebatan ini pun menjadi bagian dari dinamika kebijakan industri dan pengadaan nasional, antara efisiensi anggaran dan optimalisasi produksi dalam negeri.

Untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar industri otomotif, kendaraan niaga, serta update harga mobil terkini, pantau terus Moladin.

Artikel Tren Otomotif
Rekomendasi Untuk Kamu

Lihat Artikel Terkait

Terpopuler di
Tren Otomotif