Mobil listrik dikenal memiliki lebih sedikit komponen penggerak dibanding mobil bensin. Namun, saat mulai terdengar bunyi “gluduk” dari kolong, setir terasa menarik ke satu sisi, atau ban aus sebelah, biaya perbaikannya tetap bisa membuat pemilik kendaraan berpikir dua kali.
Apakah kaki-kaki mobil listrik memang lebih cepat aus karena bobot baterai dan torsi motor listrik? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Sejumlah model EV memang menunjukkan masalah suspensi saat inspeksi, tetapi data lain justru tidak menemukan bukti bahwa mobil listrik secara umum lebih rentan mengalami kerusakan kaki-kaki dibanding mobil bensin.
Bagi Moladiners yang menggunakan mobil setiap hari, hal yang lebih berguna adalah memahami komponen mana yang perlu dipantau, tanda awal kerusakan, serta pengeluaran yang harus disiapkan sebelum masalah bertambah besar.
Benarkah Kaki-kaki Mobil Listrik Lebih Cepat Aus?
Bobot baterai dapat memperbesar beban yang ditanggung roda dan suspensi, terutama ketika kendaraan melewati jalan berlubang, polisi tidur, atau membawa muatan penuh.
Akan tetapi, pabrikan juga merancang per, shockbreaker, dan komponen suspensi sesuai berat serta karakter kendaraan. Mobil listrik yang lebih berat tidak otomatis berarti kaki-kakinya lebih cepat rusak.
TÜV Report 2026 di Jerman menemukan masalah suspensi pada sejumlah model EV, termasuk keluhan pada sambungan dan penopang as roda.
Sementara itu, penelitian New AutoMotive untuk British Vehicle Rental and Leasing Association (BVRLA), yang dipublikasikan September 2026 dan menganalisis 47,4 juta hasil tes MOT, tidak menemukan penalti kerusakan suspensi yang konsisten akibat bobot EV.
Pada rentang 60.000-90.000 mil, studi tersebut mencatat 4,7 temuan suspensi per 100 tes pada EV, dibanding 6,1 pada mobil bensin.
Kesimpulannya, risiko keausan lebih tepat dinilai per model dan kondisi penggunaan, bukan dari jenis tenaga penggeraknya saja. Data inspeksi dari luar negeri ini juga tidak dapat langsung diperlakukan sebagai angka kerusakan untuk mobil listrik yang beroperasi di Indonesia.
5 Penyebab Kaki-kaki Mobil Listrik Bisa Lebih Cepat Bermasalah

1. Bobot kendaraan dan distribusi beban
Paket baterai menambah massa kendaraan pada banyak EV. Ketika mobil masuk lubang atau melewati sambungan jalan dengan kecepatan tinggi, suspensi harus mengendalikan gerakan massa tersebut.
Bushing, ball joint, bearing, dan shockbreaker dapat menerima tekanan berulang. Namun besar pengaruhnya tetap bergantung pada berat total, desain suspensi, kualitas komponen, dan cara mobil digunakan.
2. Jalan rusak, polisi tidur, dan benturan berulang
Jalan berlubang bukan masalah khusus mobil listrik. Mobil bensin pun dapat mengalami kerusakan serupa. Bedanya, pemilik EV perlu memastikan kondisi ban, pelek, dan kaki-kaki benar-benar sesuai spesifikasi kendaraan.
Membentur lubang keras juga bisa mengubah sudut keselarasan roda, menyebabkan setir tidak lurus, atau membuat ban aus tidak merata.
3. Akselerasi instan dan kebiasaan berkendara
Motor listrik mampu menghasilkan torsi sejak putaran rendah, sehingga respons akselerasinya terasa cepat. Jika pengemudi sering menginjak pedal secara agresif, beban pada ban dan perpindahan bobot kendaraan menjadi lebih besar.
Michelin menjelaskan bahwa kombinasi bobot dan torsi instan perlu diperhitungkan dalam desain ban EV. Namun, keausan ban tidak boleh disamakan begitu saja dengan kerusakan shockbreaker atau ball joint.
4. Tekanan ban dan spooring yang tidak sesuai
Tekanan angin di bawah rekomendasi, ukuran ban yang salah, serta sudut roda yang tidak tepat dapat mempercepat keausan ban dan memengaruhi rasa berkendara.
Ban dengan indeks beban yang tidak sesuai juga berisiko bekerja di luar kemampuan desainnya. Gunakan acuan tekanan dan ukuran pada stiker kendaraan atau buku manual, bukan angka yang berlaku umum untuk semua EV.
5. Muatan, usia komponen, dan riwayat pemakaian
Kendaraan yang sering membawa lima sampai tujuh penumpang, melewati rute tidak rata, atau dipakai dengan jarak tempuh tinggi memiliki pola keausan berbeda dari mobil yang hanya dipakai untuk berangkat kerja.
Bushing karet dapat menua, pelindung sambungan bisa sobek, dan shockbreaker dapat kehilangan daya redam seiring pemakaian. Ini berlaku untuk mobil listrik maupun bensin.
Komponen yang Perlu Dipantau dan Ciri Kerusakannya
Jangan langsung menyimpulkan shockbreaker rusak hanya karena ada suara dari kolong. Satu gejala dapat disebabkan lebih dari satu komponen. Pemeriksaan fisik tetap diperlukan sebelum memutuskan penggantian suku cadang.
| Komponen | Gejala yang mungkin muncul | Hal yang perlu dicek |
| Shockbreaker dan mounting | Mobil memantul berlebihan, bunyi ketika melewati gelombang jalan | Kebocoran, dudukan, kemampuan redam, dan pegas |
| Bushing arm / lower arm | Bunyi saat jalan rusak atau rasa kemudi berubah | Karet retak, kelonggaran, atau arm bengkok |
| Ball joint dan tie rod | Setir oblak, ketidakstabilan, bunyi saat membelok | Kelonggaran sambungan dan pelindung karet |
| Link stabilizer | Bunyi kecil berulang saat melintasi permukaan tidak rata | Sambungan link dan karet stabilizer |
| Bearing roda | Dengung yang berubah mengikuti kecepatan | Kelonggaran, kebisingan, dan kondisi hub |
| Ban dan geometri roda | Tapak ban aus sebelah, setir menarik, getaran | Tekanan, pola aus, spooring, balancing dan pelek |
Mobil listrik biasanya lebih senyap sehingga bunyi kecil dari ban atau suspensi bisa lebih mudah terdengar di kabin.
Meski demikian, suara yang semakin keras, setir tidak stabil, atau ban yang aus tidak wajar perlu segera diperiksa karena terkait keselamatan.
Berapa Biaya Servis Kaki-kaki Mobil Listrik Dibanding Mobil Bensin?
Komponen dasar seperti tie rod, ball joint, bushing, dan shockbreaker memiliki fungsi yang sama pada mobil listrik dan mobil bensin.
Hal membuat tagihan berbeda biasanya bukan semata-mata mesin listrik atau bensin, melainkan model kendaraan, ukuran komponen, ketersediaan suku cadang, pilihan OEM atau aftermarket, serta biaya jasa bengkel.
Sebagai patokan awal, berikut kisaran harga umum layanan kaki-kaki mobil penumpang di pasar Indonesia yang dirangkum dari informasi layanan Astra Otoshop. Angka ini bukan daftar harga resmi untuk BYD, Wuling, Hyundai, Toyota, atau merek tertentu dan tidak berarti suku cadang EV pasti berada dalam rentang yang sama.
| Item | Kisaran harga indikatif | Catatan perhitungan |
| Pemeriksaan kaki-kaki | Rp50.000–Rp150.000 | Biaya diagnosis; bisa berbeda antar bengkel |
| Spooring + balancing | Rp150.000–Rp400.000 | Paket layanan umum; kebutuhan masing-masing berbeda |
| Bushing arm | Rp100.000–Rp400.000 | Acuan komponen umum; jasa dapat terpisah |
| Tie rod / rack end | Rp200.000–Rp600.000 | Acuan komponen umum; perhatikan jumlah sisi |
| Ball joint | Rp150.000–Rp500.000 | Acuan komponen umum; spesifikasi tiap mobil berbeda |
| Shockbreaker | Rp300.000–Rp1.500.000 / unit | Acuan umum; komponen EV tertentu bisa di luar rentang |
Pada EV dengan suspensi khusus atau komponen yang hanya tersedia melalui bengkel resmi, ongkos penggantian dapat berbeda jauh dari patokan pasar di atas.
Sebaliknya, mobil bensin bersegmen premium juga bisa memiliki biaya kaki-kaki yang lebih mahal daripada EV perkotaan. Jadi, perbandingan paling adil adalah dua kendaraan dengan kelas, ukuran roda, dan komponen yang sebanding.
Simulasi biaya pemeriksaan ringan dibanding penggantian komponen
Misalnya, sebuah mobil mengalami setir tidak lurus setelah menghantam lubang. Jika hasil diagnosis menunjukkan tidak ada sambungan yang rusak, pengeluaran ilustratif bisa berupa cek kaki-kaki Rp100.000 dan spooring Rp250.000, sehingga total Rp350.000.
Situasinya berubah jika ditemukan tie rod aus. Sebagai contoh hitungan, harga komponen Rp400.000, jasa pemasangan Rp150.000, dan spooring Rp250.000 menghasilkan total Rp800.000. Ini hanya simulasi aritmetika untuk satu pekerjaan, bukan penawaran bengkel atau prediksi biaya model EV tertentu.
Perbaikan bisa jauh lebih mahal apabila harus mengganti shockbreaker sepasang atau satu set lower arm. Minta bengkel menjelaskan apakah komponen dijual satuan atau satu rakitan, apakah harga sudah termasuk jasa, dan apakah spooring diperlukan setelah penggantian.
Perbandingan Perawatan Kaki-kaki EV vs Mobil Bensin
| Aspek | Mobil listrik (EV) | Mobil bensin |
| Beban kendaraan | Baterai dapat menambah massa, desain suspensi disesuaikan per model | Bervariasi menurut mesin, dimensi, dan muatan |
| Risiko suspensi | Tidak otomatis lebih tinggi, hasil inspeksi berbeda menurut model | Dapat aus akibat jalan, usia, dan penggunaan serupa |
| Ban | Torsi instan dan bobot perlu diperhatikan, indeks beban harus tepat | Tetap bergantung pada tekanan, alignment, beban, dan gaya mengemudi |
Keausan Ban dan Rem Tidak Sama dengan Kerusakan Suspensi
Studi BVRLA juga mencatat lebih banyak temuan masalah ban pada EV dibanding mobil bensin dalam data inspeksinya.
Temuan tersebut relevan sebagai pengingat pentingnya pemeriksaan ban, tetapi tidak membuktikan bahwa seluruh jenis komponen kaki-kaki EV harus diganti lebih sering.
Selain itu, regenerative braking pada EV dapat mengurangi frekuensi penggunaan rem gesek dalam kondisi tertentu.
Meski kampas rem mungkin mengalami pola pemakaian berbeda, cakram tetap harus diperiksa karena penggunaan rem mekanis yang jarang dapat menimbulkan masalah pada sebagian kendaraan. Sistem pengereman dan suspensi sebaiknya diperiksa sebagai dua kelompok komponen yang berbeda.
Cara Mencegah Kaki-kaki Cepat Rusak dan Menghemat Biaya
- Perlambat kendaraan sebelum jalan rusak dan polisi tidur. Hindari mengerem keras tepat saat roda masuk lubang jika kondisi memungkinkan untuk mengurangi benturan.
- Periksa tekanan ban ketika ban dingin sesuai rekomendasi pabrikan. Jangan memakai satu angka tekanan untuk semua model EV.
- Perhatikan pola keausan ban dan kondisi pelek. Segera lakukan pemeriksaan alignment jika setir mulai tidak lurus atau ban aus sebelah.
- Hindari muatan berlebih, akselerasi agresif berulang, dan menghantam lubang dengan kecepatan tinggi.
- Jalankan inspeksi kaki-kaki dan rotasi ban sesuai buku manual. Interval setiap pabrikan berbeda; jangan menganggap semua EV punya jadwal sama.
- Bila muncul bunyi, getaran, atau ketidakstabilan, minta diagnosis tertulis dan komponen rusak ditunjukkan sebelum menyetujui perbaikan.
Pada mobil listrik, pekerjaan di sekitar bagian bawah kendaraan juga perlu mempertimbangkan perlindungan baterai tegangan tinggi. Untuk pemeriksaan atau perbaikan yang melibatkan area paket baterai, gunakan bengkel dan teknisi yang memahami prosedur keselamatan EV.
Kapan Mobil Harus Segera Dibawa ke Bengkel?
Jangan menunda pemeriksaan jika mobil menarik tajam ke satu sisi, timbul suara benturan yang konsisten, muncul getaran kuat pada kemudi, atau ban menunjukkan kerusakan maupun benjolan.
Masalah tersebut dapat memengaruhi kendali kendaraan dan tidak bisa dipastikan penyebabnya hanya melalui suara.
Untuk pemilik yang sedang mempertimbangkan EV bekas, sebaiknya lakukan pemeriksaan kolong, kondisi ban, suspensi, riwayat benturan, serta hasil spooring sebelum transaksi. Daftar fungsi dasar setiap komponen juga bisa dipelajari melalui artikel komponen kaki-kaki mobil dan fungsinya di Moladin.
Jadi, Apakah Kaki-kaki Mobil Listrik Lebih Mahal Dirawat?
Belum tentu. Mobil listrik memiliki karakter bobot dan torsi yang perlu diantisipasi, tetapi bukti inspeksi kendaraan tidak mendukung kesimpulan bahwa semua EV pasti lebih cepat merusak suspensi. Risiko pada ban dan kaki-kaki harus dinilai terpisah, dengan mempertimbangkan kondisi jalan, muatan, usia, serta desain setiap model.
Biaya servis pun tidak dapat ditentukan hanya dari label “listrik” atau “bensin”. Pemeriksaan dan spooring relatif mudah dibandingkan secara umum, sementara penggantian part harus dihitung memakai nomor komponen dan harga resmi untuk kendaraan yang bersangkutan.
Bagi Moladiners, langkah paling hemat tetap sama: tangani gejala sejak awal, rawat ban dengan benar, dan jangan mengganti komponen sebelum kerusakannya terkonfirmasi.



