Rencana impor 105.000 unit kendaraan pick up dari India untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih menjadi perhatian publik. Kendaraan tersebut akan didatangkan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara dengan menggandeng dua pabrikan besar asal India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
Dari total 105 ribu unit, Mahindra akan menyuplai 35.000 unit, sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors. Lalu seperti apa spesifikasi kendaraan yang akan digunakan untuk mendukung distribusi dan operasional koperasi di berbagai daerah tersebut?
Mahindra Scorpio Pick Up Andalkan Mesin 2.2L

Mahindra memastikan akan mengirim 35.000 unit Scorpio pick up yang diproduksi di Nashik, India. Model ini dikenal sebagai kendaraan niaga tangguh yang dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi jalan, mulai dari aspal hingga jalur pedesaan berbatu.
Di atas kertas, Scorpio pick up dibekali mesin 2.2 liter mHawk yang sudah memenuhi standar emisi Euro 4. Mesin tersebut mampu menghasilkan tenaga 140 PS dan torsi 320 Nm. Tenaga disalurkan melalui transmisi manual 6-percepatan.
Soal fitur, pick up ini tergolong cukup lengkap untuk kelasnya. Tersedia AC, head unit 2DIN, power window, hingga cruise control steering switch. Dari sisi keselamatan, sudah dilengkapi dual airbag, ABS, central locking dengan remote, serta boltable crash bar.
Dengan kombinasi tenaga besar dan fitur memadai, Scorpio diklaim cocok untuk kebutuhan distribusi barang di wilayah pedesaan maupun sektor pertanian.
Tata Yodha Hadir dengan Opsi Diesel dan CNG

Selain Mahindra, Tata Motors akan menyuplai 35.000 unit Yodha pick up. Model ini tersedia dalam beberapa pilihan mesin, termasuk diesel dan CNG.
Untuk varian CNG, Yodha mengusung mesin 4SP SGI NA yang mampu menghasilkan tenaga 74 hp pada 3.000 rpm dan torsi 200 Nm di rentang 1.400–1.600 rpm. Transmisinya manual 5-percepatan dengan kecepatan maksimum sekitar 80 km/jam.
Sementara varian diesel mengandalkan mesin 2.2 liter Varicor turbo dengan tenaga 100 hp pada 3.750 rpm dan torsi 250 Nm pada 1.000–2.500 rpm. Mesin ini juga digunakan pada varian Yodha 1200 dan Yodha 2.0.
Karakter Yodha dikenal sebagai pick up pekerja dengan fokus pada daya angkut dan efisiensi operasional.
Ultra T.7 Jadi Opsi Truk Ringan

Tak hanya pick up, Tata Motors juga akan mengirim 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck. Model ini mengusung mesin 2.956 cc 4SP BS6 Phase 2 TCIC dengan tenaga 100 PS dan torsi 300 Nm.
Ultra T.7 sudah dibekali setir tilt dan telescopic untuk kenyamanan pengemudi, serta tangki bahan bakar berkapasitas 90 liter. Dengan spesifikasi tersebut, truk ringan ini cocok untuk kebutuhan logistik skala menengah.
Impor Dipertanyakan, Industri Lokal Dinilai Mampu
Kebijakan impor ini menimbulkan pertanyaan karena industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi pick up hingga sekitar 1 juta unit per tahun.
Sejumlah pabrikan yang memproduksi pick up di dalam negeri antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, hingga PT Sokonindo Automobile.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, apabila kebutuhan tersebut dipenuhi industri dalam negeri, potensi dampak ekonominya bisa mencapai Rp 27 triliun, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah nasional.
Meski begitu, pemerintah juga mengakui bahwa Indonesia belum memproduksi pick up dengan spesifikasi penggerak 4×4 yang dirancang khusus untuk medan sangat berat seperti pertambangan dan perkebunan ekstrem.
Rencana impor 105 ribu pick up India ini pun menjadi perdebatan antara kebutuhan spesifikasi tertentu dan optimalisasi industri nasional. Menarik untuk melihat bagaimana realisasi pengadaan tersebut serta dampaknya terhadap industri otomotif Tanah Air ke depan.
Bagaimana menurut kamu, Moladiners? Apakah impor ini langkah tepat atau seharusnya mengutamakan produk lokal? Pantau terus Moladin untuk update otomotif terbaru.


