Biaya penggunaan harian menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih mobil, terutama bagi pengendara yang setiap hari menempuh jarak cukup jauh. BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya menawarkan pendekatan berbeda, karena satu mengandalkan listrik sementara lainnya masih menggunakan bensin.
Keduanya sama-sama memiliki dimensi ringkas untuk penggunaan di perkotaan. Lalu, dalam jarak tempuh yang sama, bagaimana perbandingan biaya energi BYD Atto 1 vs Brio Satya?
Simulasi BYD Atto 1 vs Brio Satya
Perbandingan ini menggunakan asumsi pemakaian 60 km per hari selama 30 hari, sehingga total jarak tempuh mencapai sekitar 1.800 km per bulan.
Berikut gambaran dasar perhitungannya:
Perhitungan
BYD Atto 1
Honda Brio Satya
Jarak per hari
60 km
60 km
Jarak per bulan
1.800 km
1.800 km
Konsumsi
8,5 km/kWh
16–20 km/l
Kebutuhan energi/BBM per hari
7,06 kWh
3–3,75 liter
Kebutuhan per bulan
211,76 kWh
90–112,5 liter
Perhitungan ini hanya membandingkan biaya energi, bukan harga mobil, pajak, servis, maupun komponen biaya kepemilikan lainnya.
Biaya Listrik BYD Atto 1
Berdasarkan pengujian redaksi, konsumsi listrik BYD Atto 1 berada di sekitar 8,5 km/kWh. Dari angka tersebut, kebutuhan listrik untuk jarak 60 km dapat dihitung sebagai berikut:
Jarak harian: 60 km
Konsumsi: 8,5 km/kWh
Kebutuhan listrik: sekitar 7,06 kWh per hari
Tarif listrik rumah: sekitar Rp1.444 per kWh
Biaya per hari: sekitar Rp10.193
Kebutuhan listrik 30 hari: sekitar 211,76 kWh
Biaya per bulan: sekitar Rp305.788
Jadi, dengan asumsi pengisian dilakukan di rumah dan tarif listrik Rp1.444 per kWh, biaya energi Atto 1 untuk menempuh sekitar 1.800 km per bulan berada di kisaran Rp305 ribuan.
Perlu dicatat, biaya aktual dapat berbeda karena efisiensi pengisian, kondisi baterai, penggunaan AC, kondisi lalu lintas, hingga gaya berkendara.
Pengeluaran akan berubah apabila pengisian daya dilakukan melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Dengan asumsi tarif Rp2.400–Rp2.500 per kWh, hitungannya menjadi:
Kebutuhan listrik: sekitar 7,06 kWh per hari
Biaya per hari: sekitar Rp16.941–Rp17.647
Kebutuhan selama 30 hari: sekitar 211,76 kWh
Biaya per bulan: sekitar Rp508.235–Rp529.412
Artinya, dalam simulasi ini, pengisian di rumah masih menghasilkan biaya energi yang lebih rendah dibandingkan jika seluruh kebutuhan listrik dipenuhi melalui SPKLU.
Biaya BBM Honda Brio Satya
Honda Brio Satya menggunakan mesin bensin 1.200 cc dengan tenaga sekitar 90 TK dan torsi 110 Nm. Untuk konsumsi bahan bakar, angkanya dapat berada di kisaran 16–20 km/l.
Dengan jarak yang sama, kebutuhan BBM-nya menjadi:
Jika konsumsi 16 km/l
Jarak harian: 60 km
Kebutuhan BBM: sekitar 3,75 liter per hari
Kebutuhan 30 hari: sekitar 112,5 liter
Pertalite Rp10.000/liter: sekitar Rp1,125 juta per bulan
Pertamax Rp15.950/liter: sekitar Rp1,794 juta per bulan
Jika konsumsi 20 km/l
Jarak harian: 60 km
Kebutuhan BBM: sekitar 3 liter per hari
Kebutuhan 30 hari: sekitar 90 liter
Pertalite Rp10.000/liter: sekitar Rp900.000 per bulan
Pertamax Rp15.950/liter: sekitar Rp1,436 juta per bulan
Perbedaan konsumsi tersebut menunjukkan bahwa kondisi penggunaan tetap berpengaruh terhadap pengeluaran. Mobil yang digunakan dengan lalu lintas lebih lancar atau gaya berkendara yang lebih efisien dapat menghasilkan konsumsi berbeda dari angka pengujian.
Jika dibandingkan dalam jarak tempuh yang sama, terdapat perbedaan cukup besar pada biaya energi bulanan.
Atto 1 diisi di rumah
Dengan biaya sekitar Rp305.788 per bulan, selisihnya terhadap Brio Satya adalah:
Brio 16 km/l + Pertalite: selisih sekitar Rp819.212
Brio 16 km/l + Pertamax: selisih sekitar Rp1,489 juta
Brio 20 km/l + Pertalite: selisih sekitar Rp594.212
Brio 20 km/l + Pertamax: selisih sekitar Rp1,130 juta
Dalam skenario ini, Atto 1 memiliki biaya energi bulanan yang lebih rendah dibandingkan seluruh skenario BBM Brio Satya yang dihitung.
Atto 1 diisi melalui SPKLU
Jika seluruh kebutuhan listrik Atto 1 berasal dari SPKLU, biayanya sekitar Rp508.235–Rp529.412 per bulan.
Selisihnya dengan Brio Satya menjadi:
Dibandingkan Brio Pertalite: sekitar Rp371.000–Rp617.000 per bulan
Dibandingkan Brio Pertamax: sekitar Rp907.000–Rp1,286 juta per bulan
Dengan kata lain, penggunaan SPKLU memang membuat biaya energi Atto 1 lebih tinggi dibandingkan pengisian di rumah, tetapi dalam simulasi ini masih berada di bawah biaya BBM Brio Satya.
Sama-sama Ringkas, Karakter Penggunaannya Berbeda
Perbedaan kedua mobil tidak hanya terlihat dari hitungan biaya energi. Cara menggunakannya juga memiliki kebutuhan yang berbeda.
BYD Atto 1
Menggunakan energi listrik, bukan bensin.
Biaya energi paling rendah dalam simulasi diperoleh ketika pengisian dilakukan di rumah.
Pengisian melalui SPKLU membuat biaya energi lebih tinggi dibandingkan charging di rumah.
Kondisi baterai dan ketersediaan fasilitas pengisian perlu diperhatikan.
Perjalanan jauh membutuhkan perencanaan terkait lokasi pengisian.
Waktu pengisian menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan saat melakukan perjalanan.
Honda Brio Satya
Menggunakan mesin bensin 1.200 cc.
Konsumsi BBM berada di kisaran 16–20 km/l dalam data yang digunakan.
Pengisian bahan bakar dilakukan melalui SPBU.
Ketika bensin menipis, pengguna cukup mencari SPBU untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak perlu mempertimbangkan ketersediaan titik charging seperti pada mobil listrik.
Pelayanan purnajualnya sudah menjangkau berbagai daerah.
Perbedaan tersebut membuat biaya energi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pola perjalanan dan kemudahan mendapatkan energi juga menjadi bagian dari pengalaman penggunaan sehari-hari.
BYD Atto 1 vs Brio Satya, Apa yang Membedakan?
Jika dirangkum dari simulasi 60 km per hari, perbedaan utama keduanya bisa dilihat dari beberapa aspek berikut:
Dalam simulasi penggunaan 60 km per hari selama 30 hari, BYD Atto 1 mencatat biaya energi lebih rendah dibandingkan Honda Brio Satya. Pengisian di rumah menghasilkan biaya sekitar Rp305.788 per bulan, sedangkan pengisian penuh melalui SPKLU sekitar Rp508.235–Rp529.412.
Honda Brio Satya di sisi lain menawarkan pola penggunaan yang lebih sederhana untuk pengisian energi karena mengandalkan SPBU. Jadi, BYD Atto 1 dan Brio Satya memiliki pendekatan berbeda: Atto 1 menawarkan biaya energi yang lebih rendah dalam simulasi ini, sementara Brio Satya memberikan fleksibilitas pengisian bahan bakar yang sudah familiar bagi pengguna mobil bensin.
Kesimpulan
BYD Atto 1 memiliki biaya energi lebih rendah dalam simulasi 60 km per hari, dengan pengeluaran sekitar Rp305.788 per bulan jika mengisi daya di rumah dan Rp508.235–Rp529.412 jika menggunakan SPKLU.
Honda Brio Satya membutuhkan biaya BBM lebih besar, yakni sekitar Rp900.000–Rp1,125 juta per bulan dengan Pertalite atau Rp1,436–Rp1,794 juta menggunakan Pertamax, tergantung konsumsi 16–20 km/l.
Keduanya punya karakter penggunaan berbeda. Atto 1 menawarkan pengeluaran energi yang lebih rendah, tetapi perjalanan jauh perlu mempertimbangkan lokasi dan waktu pengisian. Brio Satya lebih sederhana dalam urusan pengisian karena dapat mengandalkan SPBU yang tersedia luas.
Narulita adalah SEO Content Writer dengan pengalaman menulis lebih dari 3 tahun di berbagai topik, termasuk dunia otomotif. Narulita senang untuk memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami, demi menghadirkan manfaat kepada para pembaca. Terima kasih telah membaca karya tulis saya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat!